Pages

Sabtu, 01 Desember 2012

Kisah Separuh Porsi Es Krim

Separuh Porsi Es Krim

Pada suatu hari, seorang anak masuk ke dalam rumah makan yang sangat terkenal dan mahal. Dia masuk seorang diri dan memakai pakaian biasa saja, tidak seperti anak-anak lain yang memakai pakaian yang bagus. Anak itu duduk di salah satu kursi lalu mengangkat tangannya untuk memanggil salah satu pelayan.
" Jangan pernah meremehkan orang lain, bisa jadi rejeki Anda mengalir darinya."
Seorang pelayan perempuan menghampiri anak kecil itu lalu memberikan buku menu makanan. Pelayan tersebut agak heran mengapa anak kecil itu berani masuk ke dalam rumah makan yang mahal, padahal dari penampilannya, pelayan itu tidak yakin bahwa sang anak kecil mampu membayar makanan yang ada.
"Berapa harga es krim yang diberi saus strawberry dan cokelat?" tanya sang anak kecil.
Sang pelayan menjawab, "Lima puluh ribu,"
Anak kecil itu memasukkan tangan ke dalam saku celana lalu mengambil beberapa receh dan menghitungnya. Lalu dia kembali bertanya, "Kalau es krim yang tidak diberi saus strawberry dan cokelat?"
Si pelayan mengerutkan kening, "Dua puluh ribu,"
Sekali lagi anak kecil itu mengambil receh dari dalam saku celananya lalu menghitung. "Kalau aku pesan separuh es krim tanpa saus strawberry dan cokelat berapa?"
Kesal dengan kelakuan pembeli kecil itu, pelayan menjawab dengan ketus, "Sepuluh ribu!"
Sang anak lalu tersenyum, "Baiklah aku pesan itu saja, terima kasih!"
Pelayan itu mencatat pesanan lalu menyerahkan pada bagian dapur lalu kembali membawa es krim pesanan. Anak itu tampak gembira dan menikmati es krim yang hanya separuh dengan suka cita. Dia melahap es krim sampai habis. Kemudian sang pelayan kembali datang memberikan nota pembayaran.
"Semua sepuluh ribu bukan?" tanya anak itu lalu membayar es krim pesanannya dengan setumpuk uang receh. Wajah sang pelayan tampak masam karena harus menghitung ulang receh-receh itu. Lalu sang anak mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu dari saku celana belakangnya, "dan ini tips untuk Anda!" ujar sang anak sambil menyerahkan selembar uang tersebut untuk si pelayan dan tersenyum meninggalkan pelayan yang diam mematung.

Guys, ada kalanya kita tidak melihat apa yang melekat pada tubuh seseorang saja sebagai penilaian. Bukan hal yang bagus untuk meremehkan seseorang karena melihat penilaian dari luar, kamu ga  akan pernah tahu pada beberapa waktu yang akan datang, seseorang yang kamu remehkan bisa jadi merupakan pengantar rejeki yang tak terduga. :)
(vem/yel)

Kisah Si Pohon Apel

Pohon Apel
 Sadarilah... kita seringkali melupakan hal-hal yang penting di dalam hidup kita. Dan kemudian menyesalinya saat semua sudah terlambat...
Dahulu kala, di sebuah padang hiduplah sebuah pohon apel yang rindang dan banyak buahnya. Setiap hari, ada seorang anak kecil yang senang bermain di bawah pohon tersebut. Ia memanjat pohon tersebut, duduk di atas batang yang besar dan kuat, makan apel dan bahkan tidur di bawah rindangnya pohon. Ia sangat mencintai pohon itu, demikian pula sebaliknya sang pohon. Ia tak pernah merasa keberatan saat si anak kecil bermain di sekitarnya. Ia bahkan seringkali mengajaknya bercanda dan bercerita.
Waktupun berlalu, si anak telah beranjak dewasa. Suatu hari ia mengunjungi pohon apel dengan wajah yang sedih.
"Apel, aku sedih," katanya.
"Mengapa kau sedih wahai anakku?"
"Aku tak punya mainan, aku ingin membeli mainan tapi aku tidak punya uang," katanya lagi.
Melihat si anak menangis, pohon apelpun iba. Dijatuhkannya beberapa buah apel dari tubuhnya. "Aku tak punya mainan untuk kuberikan padamu. Tetapi, kau bisa menjual apel-apel ini agar kau punya uang dan bisa membeli mainan," kata si pohon apel.
Bergegas dengan wajah bahagia dan penuh semangat, anak kecil itu memungut semua apel yang jatuh dan dijualnya ke pasar. Iapun berhasil membeli mainan yang didambakannya.
Sayangnya, ia tak pernah kembali... dan bersedihlah si pohon apel.
***
Si anak telah beranjak dewasa. Ia telah memiliki keluarga dan anak-anaknya. Suatu kali, ia lewat di padang. Dan pohon apel menyapanya, "hei, kemarilah. Ayo bermain denganku," katanya.
"Ah, aku tak punya waktu bermain denganmu. Aku punya anak dan keluarga yang harus kuberi makan dan tempat tinggal. Tetapi aku tak punya cukup uang untuk membeli rumah," keluhnya.
Tak tega melihat si anak yang tak punya rumah, pohon apelpun berkata, "Nak, aku tak bisa memberikanmu sebuah rumah. Tetapi, kau bisa memotong ranting-ranting kokohku ini. Bangunlah rumah dengan rantingku agar keluarga dan anak-anakmu tak lagi kedinginan, kehujanan dan kepanasan." kata si pohon apel.
Kegirangan mendengar ide pohon apel, si anak mengambil gergaji dan memotong ranting-ranting pohon apel dengan penuh semangat.
Sayangnya, ia tak kembali lagi... dan pohon apelpun bersedih.
***
Beberapa tahun kemudian, si anak kembali dengan wajah yang letih dan lesu.
"Hai, kemarilah. Ayo bermain denganku," sambut pohon apel kegirangan melihat si anak kembali.
Kisah si Pohon Apel
"Tidak, aku tak punya waktu bermain denganmu. Aku sudah tua. Aku merasa jenuh. Aku ingin menghibur diriku dan berlayar di samudera luas. Bisakah kau memberikanku sebuah kapal yang besar?" tanya si anak.
"Hmm... aku tak bisa memberikanmu kapal yang besar. Tetapi, kau boleh memotong batang pohonku dan membuatnya menjadi kapal," kata pohon apel dengan tulus.
Demikianlah si anak memotong batang pohon apel yang besar. Mengubahnya menjadi kapal dan pergi berlayar. Ia meninggalkan pohon apel yang kini tinggal akar yang lemah.
Pohon apelpun bersedih dan berdoa agar si anak dapat kembali lagi.
***
Benar dugaan si pohon apel, suatu hari, si anak kembali mengunjunginya. Namun ia sudah sangat tua dan lemah. Ia terlihat sangat lelah.
"Hai nak, kemarilah. Aku sudah tak punya apa-apa yang bisa kuberikan padamu. Tak ada buah apel, tak ada ranting atau batang pohonku," katanya.
"Tidak, aku tak butuh apelmu. Gigiku tak lagi kuat untuk mengigitnya. Aku juga tak butuh rantingmu, tubuhku terlalu lemah untuk memanjatnya," kata si anak.
"Lalu apa yang kau butuhkan dariku? Buahku sudah kau ambil, rantingku sudah kuberikan, bahkan batangku sudah kau jadikan kapal. Kini aku tinggal akar yang lemah dan tua. Aku sudah tak berdaya," kata pohon apel.
Si anak kecil berlutut dan menangis di dekat akar tua itu. "Maafkan aku, aku telah membuatmu nyaris mati dan tak berdaya. Aku sudah merampas semua milikmu dan malah seringkali pergi meninggalkanmu. Kini, ijinkan aku berbaring di sampingmu. Aku terlalu lelah, dan aku hanya butuh sebuah tempat untuk beristirahat, terakhir kalinya."
"Kemarilah nak, aku akan memberikanmu tempat beristirahat yang tenang sepanjang sisa hidupmu..." kata pohon apel sambil tersenyum bijaksana.
***
Pohon apel di sini mengingatkan kita pada orang tua. Yang ketika masih kecil mengajak kita bermain, memberi makan, dan memanjakan. Namun, ketika kita dewasa, kita seringkali melupakannya. Kita banyak meminta, banyak menuntut, dan hanya datang saat kita punya masalah saja.
Jangan biarkan orang tua kita hidup bagaikan pohon apel yang tinggal akarnya saja. Buatlah orang tua Anda menjadi pohon apel yang subur dan tumbuh sehat hingga masa tuanya.
Sampai menjadi pohon apel yang berbahagia.(vemele)